Sunday, July 19, 2015

Bloodline Kucing

Ocehan santai dari suami, saya coba share jadi tulisan...
karena banyak benarnya :D
Selamat menikmati,

Merunut bloodline kucing-kucing dah kayak merunut sanad... Beberapa cattery legendaris di luar sana sudah pensiun, bahkan breedernya sudah wafat. Jejak digital (website atau dicari via Google) pun tidak ada, cattery-cattery yang aktif tahun 80-an atau awal 90-an. Namun kiprah mereka dilanjutkan oleh generasi para "Tabi'in" yang masih memelihara "sanad"-nya.

Para "Tabi'in" ini tentu saja bawa level sanad yg beda2, dari mulai shahih, hasan, dhaif, palsu, ahad, dll. Kita harus cek ricek lagi seberapa dekat sang "Tabi'in" ini dengan generasi "sahabat" awal. Riset sanad dengan teliti. Makin dekat para "Tabiin" ini dengan para "Sahabat", maka kemungkinan dititipkan kucing dengan kualitas yang bagus makin terbuka.

Seperti kata pepatah, air makin jernih, murni dan bagus ketika semakin mendekati sumbernya.

Para "Tabi'in" dan "Salafusshalih" ini juga mengembangkan ilmunya, sesuai perkembangan zaman.. Sehingga kita mengenal 4 imam mazhab, juga imam bukhari, imam muslim, hingga ahli tasawuf imam ghazali.

Sama seperti di dunia kucing, dengan sumber yg sama, akhirnya mengembangkan dan fokus di dunia nya masing-masing. Ada yg fokus di warna black, ada yg fokus warna white, ada yg fokus pola tabby, pola bicolor, warna silver/chincilla, himalaya, hingga exotics...
Masing2 memiliki kelebihan. Ada yg punya kelebihan di mata yg besar, bulat dan open. Ada yg kelebihannya di telinganya yg bulat, kecil, dan jauh. Ada yg kelebihan di badannya yg besar, cobby. Ada yg kelebihannya di hidung yg pesek ekstrim. Ada juga yg ekornya pendek, coat yang lebat dll...

Terkadang kita yang awam ini, tidak paham dengan kondisi para generasi awal, generasi "Sahabat". Para "Tabiin" ini berjasa besar, sehingga kita tidak perlu repot-repot lagi belajar ke kitab-kitab asli, merunut mana yang shahih, bagus, dan lain-lain. Sebagaimana Imam bukhari, mereka telah men-"shortcut" dan meracik itu semua menjadi sesuatu yang lebih simple, dan sesuai dengan zaman kita. Hingga "karya" yang dihasilkan para "Tabiin" lebih mudah, lebih applicable, lebih lengkap, lebih sesuai zaman...

Sudah pasti kalau kita me-"racik" sendiri karya-karya para "Sahabat", hasilnya tidak akan sebagus racikan para "Tabi'in" itu. Banyak faktor penyebabnya, misalnya kemampuan, pengalaman, faktor kedekatan dan lain-lain. Intinya adalah, generasi kita sudah tidak perlu repot-repot meracik dari sumber awal dulu... karena sudah disempurnakan oleh generasi "Tabi'in"

Tradisi lainnya juga sama. Persis seperti tradisi para ulama, kita semua tentu ingat ketika Imam Syafii muda ditolak menjadi murid oleh Imam Malik. Begitu juga di dunia cattery, para "Tabi'in" tidak mudah untuk mempercayakan sanad nya ke orang lain. Sangat selektif memilih "murid". Maka di dunia cattery saya bilang bahwa hukum "Pembeli adalah raja" tidak berlaku disini. Cattery adalah raja sesungguhnya.

Bukan hanya raja, tapi cattery adalah guru dan juga mentor. Ini khusus cattery-cattery yang sangat peduli dan menjaga bloodline. Mereka akan pemilih, untuk memberikan kucingnya. Karena sama dengan mempercayakan "sanad". Makanya kita harus hati-hati berhadapan dengan cattery seperti ini, pendekatan ekonomi (jual-beli) akan gagal. Karena mereka sudah "beyond duit"...

Tapi ketika mereka puas alias "ridho" dengan muridnya, semuanya akan dikasih. Yes, SEMUA. Tidak ada rahasia lagi antara guru dan murid. Tapi tentunya butuh proses, butuh waktu, butuh pembuktian. 

Terkait artikel sebelum ini, http://prabucats.blogspot.com/2015/07/harga-kucing-yang-relatif.html kini menjadi jelas mengapa ada kucing yang harganya relatif mahal... Karena menjaga bloodline. Contohnya seperti si Cinema's Don Jon, yang membawa bloodline Artemis yang sudah langka sekali. 

Saya berharap, cattery-cattery di Indonesia, terutama yang muda-muda dan baru-baru, agar serius memikirkan urusan bloodline ini. Tidak asal beli dan breeding kucing. Baik dari cattery Indonesia apalagi impor. Fokus di program breedingnya, tidak terlalu terpengaruh dengan hiruk pikuk catshow... 

Fokus di program breeding, misalnya mau fokus di persia warna red. Cari cattery yang punya line warna red terbaik. Mau kucing red yang mata-nya belo, cari line dengan mata belo, kemudian cari cattery yang menjaga "sanad" line belo tersebut. Mau hasil breeding kucing-kucing berbadan besar? cari line yang kuat di badan dan boning yang bagus, kemudian cari cattery yang sesuai. Begitulah pendekatan dalam mencari parent stock baru... 

Jangan "mata kucing"-an, setiap lihat kucing bagus main sikat hehe.. Setiap kucing tidak ada yang sempurna. Misalnya kita punya kucing bermata belo, tapi badan kecil, maka cari tambahan kucing baru yang berbadan besar. Untuk saling menutup kekurangan. Disitulah seni breeding :)

Sekali lagi, cattery tempat kita adopt/beli kucing adalah yang akan menjadi mentor/guru kita. Jangan sampai salah memilih cattery (baik lokal ataupun di luar), apalagi cuma karena tergiur harga murah.. Karena memang yang "mahal" ini ilmu-ilmu dari mentor.. Mahal-murah akan menjadi relatif nantinya, percayalah :)

Terakhir, saya berharap di Indonesia nanti akan terlahir jenius-jenius baru di dunia perkucingan, menciptakan suatu "mazhab" baru di dunia perkucingan, yang akan menjadi tren di seluruh dunia. 

Amin-kan dong :)
Semoga berguna

PS : 
tulisan ini diperuntukan untuk yang sudah advance, bagi yang masih pemula, disarankan untuk
1. ikut diklat cattery dari ICA
2. Memiliki  paling tidak satu kucing show dari cattery yang dipercaya mau dan mampu menjadi mentor
3. Mengikuti show setidaknya satu season penuh
Dengan 3 hal itu setidaknya akan lebih memahami tentang kualitas kucing, dan komitmen untuk memeliharanya :)

2 comments:

  1. masyaAllah ternyata suami mbak mita bermanhaj salaf hhe. menjaga bloodline kucing ternyata persis menjaga kemurnian akidah yah, mesti jelas asal usul nya. dan generasi awal lah yg paling mendekati kebenaran. loh kok jdi berat nih . btw smga berka prabu cattery nya

    ReplyDelete